LBB RISMA EDUCATION Sumenep

Bersama Membangun Bangsa

Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

“Ternyata Adam Dilahirkan”, Benarkah ?

Oleh Admin 05-07-2014 12:50:20

"Ternyata Adam Dilahirkan”, Benarkah ? 

Oleh :

Abd Rachem

Ardiyansah Yuliniar Firdaus

 

Judul di atas itu diambil dari sebuah buku dari seorang penulis yang bernama Agus Mustafa yang dilahirkan di Malang Jawa timur pada tanggal 16 Agustus 1963. Buku itu kami dapatkan dari toko besar di Surabaya. Karena tertarik dengan judul itu, kami berkeinginan untuk memilikinya dan sekaligus ingin mengetahui apa yang sebenarnya tersirat di dalamnya, sehingga dikatakan bahwa “Ternyata Adam  dilahirkan”. Hal ini juga terdapat pada pernyataan pada halaman 243:

“Allah dengan sangat jelas telah menuntun kepahaman kita tentang penciptaan Adam ini di dalam al Qur’an. Bahwa, Adam adalah bapak manusia modern yang terpilih dari spesies manusia purba. Yang di dalam al Qur’an disebut sebagai al basyar. Ia adalah al insan yang dilahirkan oleh al basyar…

Kapan? Dimana? Jawaban secara persis belum diketemukan di dalam al Qur’an. Kita tunggu penemuan empiriknya. Namun, Allah menyinggung secara global bahwa al insan itu diciptakan sesudah jin dan sesudah al basyar ”

Padahal sejak kami mengenal agama khususnya agama Islam, telah dikatakan bahwa Nabi Adam itu diciptakan dari tanah bumi di dalam surga bukan dilahirkan. Kemudian diciptakan juga ibu Hawa dari tulang  rusuk. Sebagaimana dijelaskan dalam HR. Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada para wanita (para  istri), karena wanita  itu diciptakan dari tulang rusuk…”. Hawa diciptakan sebagai pendamping (isteri) Nabi Adam juga di dalam surga. Setelah mereka melanggar perintah Allah maka mereka dikeluarkan dari surga atau diturunkan ke bumi. Tebal buku itu 256 halaman dan diterbitkan oleh “Padma Press” pada tahun 2007, beralamat di jln Raya Taman Indah no 9-11 Menanggal, Surabaya, Jawa Timur.

Setelah kami baca dan kami teliti isinya, ternyata yang menjadi sebab keyakinan atau alasan penulisnya bahwa Adam itu dilahirkan (tidak diciptakan) adalah surat Al Imran ayat 59 yang artinya:

“Sesungguhnya masala (penciptaan) Isa disisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menjadikan Adam dari tanah (turab) kemudian berfirman kepadanya “jadilah” maka jadilah dia. Berdasarkan pada keyakinan ayat  inilah maka saudara Agus Mustafa kemudian menulis buku dengan judul “Ternyata Adam dilahirkan”

Tentang Keyakinan.

Keyakinan menurut kami adalah berawal dari perkataan orang (orang yang mengatakan) kemudian perkataan orang itu dibuktikan melalui suatu penelitian. Setelah penelitian itu mendapatkan bukti kebenaran/kenyataan, baru keyakinan itu berada pada tingkat “ainul yaqin”. Ainul yaqin itu kemudian ditingkatkan lagi penelitiannya terhadap bukti-bukti sehingga memahami dan menyaksikan keberadaan bukti-bukti serta memahami atas asal-muasal bukti-bukti itu, barulah kita sampai pada tingkat keyakinan yang lebih tinggi yaitu “haqqul yaqin”. Begitulah kira-kira jika kita akan mendapatkan keyakinan yang hakikih yang telah kita cari sendiri melalui suatu penelitian dan pemahaman, maka keyakinan kita tak akan pernah goyah sampai kapanpun.

Untuk mendapatkan keyakinan tentang penciptaan manusia yang hidup di muka bumi ini memang seharusnya kita melalui suatu penelitian terhadap bukti-bukti yang ada di muka bumi ini. Selain bukti-bukti fosil yang menyatakan bahwa pada suatu saat tertentu telah hidup makhluk-makhluk lain yang berbeda-beda, juga melalui ayat-ayat Al-Qur’an kita kumpulkan bukti-bukti ayat itu agar menjadi petunjuk bagi kita bahwa ada ayat-ayat yang menyatakan tentang adanya penciptaan manusia atau asal usul diciptakannya manusia. Kemudian ayat-ayat itu dikaji sehingga dapat dipahami apa-apa yang tersebut dalam penjelasan ayat-ayat itu. Al-Qur’an memang petunjuk bagi kita semua.

Marilah kita juga kaji surat Al Imran ayat 59 beserta ayat-ayat lainnya yang mendukung penjelasan tentang kejadian manusia atau diciptakannya  manusia oleh Allah sang Pencipta, yang artinya:

“Sesungguhnya masala (penciptaan) Isa disisi Allah, adalah seperti Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah (turab) kemudian berfirman kepadanya “Jadilah” maka jadilah dia”

Selanjutnya disebutkan dalam buku itu bahwa ada dua hal yang perlu dicermati dari ayat di atas yaitu yang pertama adalah analog Isa dan Adam sedangkan yang kedua adalah masalah “Kun”.

Dalam analog, Allah menyamakan proses antara penciptaan Isa dan penciptaan Adam. Adam diciptakan dari tanah (turab) lalu diucapkan kepadanya “Kun” maka jadilah ia. Dari alasan itu  maka timbul sangkaan bahwa jika penciptaan Adam itu sama dengan penciptaan Isa ibnu Maryam, berarti juga bahwa Adam itu dilahirkan sebagaimana Isa itu dilahirkan oleh sang ibu. Jika Adam itu  diciptakan melalui kehamilan oleh sang ibu, lalu siapa ibunya? Pendapat yang disampaikan oleh Agus Mustafa ini merupakan suatu lelucon yang sangat tidak lucu sebab penulisnya sendiri bertanya tentang pendapatnya sendiri bahwa “Benarkah Adam dilahirkan? Jika ya, siapa orang tuanya? Berarti, Adam bukan manusia pertama? Apa bukti-buktinya?”.

Kami berpendapat bahwa makna surat Al Imran ayat 59 yang disebutkan di atas oleh Agus Mustafa itu kurang jelas. Kata “masala” dalam Al Qur’an itu tidak bermakna “masalah”, tetapi bermakna “perumpamaan, atau misal” sehingga makna dari ayat itu adalah  “Sesungguhnya perumpamaan (kejadian) Isa disisi Allah adalah  seperti kejadian  Adam. “Dia menciptakannya dari tanah (turab), kemudian Dia berfirman “Jadilah”, maka jadilah dia”.

Ayat di atas menjelaskan tentang “perumpamaan” penciptaan Isa di sisi Allah seperti perumpamaan penciptaan Adam”. Adam diciptakan dari tanah (turab), Isa juga diciptakan dari tanah (turab). Turab pada Adam itu tidak sama dengan turab pada Isa. Turab pada Isa sudah berupa saripati tanah yang masuk kepada Maryan melalui makanan yang berupa “protein” yang disebut juga “zat-zat anorganis”

Turab yang dimaksud di dalam Al Qur’an menurut penjelasan dari KH Bahauddin Mudhari dalam bukunya “Dialog Islam Kristen” yang pernah kami baca adalah sebagai berikut : Turab (tanah) adalah zat-zat anorganis yang terjadi oleh sebab gabungan atau proses beberapa unsur diantaranya adalah seperti yang tersebut dalam Al Qur’an, yaitu:

Ar Rahman ayat 14: “Dia menciptakan manusia dari tanah liat seperti tembikar”. 

Kata “Fakhkhar” (Karbonium) atau “zat arang”

Kata “Shal-shal” (Ogsigenium) atau “zat pembakar”

Al Hijr 26: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat yang kering dari lumpur hitam yang berbentuk”. Kata “Hamaain” (Netrogenium) atau “zat lemas”

As Sajadah 7: ”Yang membuat bagus segala sesuatu yang Dia menciptakannya, dan Dia menciptakan manusia dari tanah”. Kata “Tien” (Hedrogenium) atau “zat Cair”

As Saffat  11: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat” 

Kata “Laasip” (zat besi) yang terdiri dari (Ferum, Kalium, Yudium, Silisium dan Mangan)

Dari proses persenyawaan ini kemudian terbentuklah zat-zat yang baru yang dinamakan “Protein”. Inilah yang dimaksud “Turab” (tanah) atau zat-zat anorganis seperti yang disebutkan dalam surat Al Imran ayat 59. Salah satu yang dipandang penting di antara zat-zat anorganis ini ialah zat Kalium yang banyak terdapat dalam jaringan-jaringan tubuh teristimewa dalam jaringan otot-otot. “Zat Kalium” sangat dipandang penting karena mempunyai aktifitas dalam proses hayati, yaitu dalam pembentukan badan halus.

Dalam berlangsungnya “proteinisasi”, menjelmakan proses pergantian yang disebut “Substitusi”. Setelah selesai mengalami  substitusi, maka menggempurlah elektron-elektron sinar kosmis yang mewujudkan sebab pembentukan (Formasi) dinamakan juga “sebab ujud” (Causa Formatis). Adapun sinar kosmis itu adalah suatu sinar yang mempunyai kemampuan untuk merubah sifat-sifat yang berasal dari tanah, maka dengan mudah sinar kosmis itu dapat mewujudkan pembentukan tubuh manusia Adam berupa badan kasar (jasmani) yang terdiri dari : badan, kepala, tangan, kaki, mata dsb. Kemudian barulah Allah memberinya Roh (“Kutiupkan Ruh Ku” surat al Hijr:29), sehingga terjadilah manusia ciptaan Allah,  yaitu Adam berbadan lengkap, berbadan jasmani dan berbadan rohani.

Perumpamaan atau gambaran di atas kiranya sudah jelas bahwa Adam itu diciptakan melalui suatu proses yang panjang, sejak dari bermacam-macam tanah yang dicampurkan (diproses), kemudian dibuat dalam bentuk rupa yang sempurna menurut kehendak Allah, kemudian dalam suatu proses seperti di atas semua unsur-unsur itu bersenyawa yang kemudian berubah ujud dari tanah menjadi daging, tulang, rambut dan lain-lainnya, kemudian Allah “Meniupkan ruh ke dalamnya” sehingga ciptaannya itu hidup (Adam).

Adapun turab pada Isa itu sebagaimana telah disebutkan diatas yaitu  saripati tanah yang dihasilkan melalui makanan yang masuk kedalam badan Maryam  yang berupa “Protein”.

Tentang “ Kun “.

“Kemudian berfirman”Jadilah”maka jadilah dia”    Al Imran  ayat 59.

“Kun” kepada Adam telah disebutkan di atas bahwa “Kun” kepada Adam itu melalui proses yang panjang dan tak disebutkan berapa lamanya proses penciptaannya itu, sedangkan “Kun” kepada Isa ibnu Maryam itu sudah jelas selama 9 bulan masa kehamilan. Jadi “Kun” kepada Adam itu tidak sama dengan ”Kun”kepada Isa ibnu Maryam.

Contoh lain tentang “Kun” adalah tentang kejadian langit dan bumi bahwa bumi diciptakan dalam dua hari (masa), isi bumi dalam dua hari (masa), langit dua hari (masa), sehingga kesemuanya (langit, bumi beserta isinya) diciptakan dalam enam hari (masa). Enam hari disini tidak berarti enam kali dua puluh empat jam, sebab hitungan jam ketika itu masih belum ada. Dengan telah diciptakannya langit dan bumi beserta isinya khususnya diciptakannya matahari dan bulan, maka zaman itu baru mulai dihitung dengan peristiwa tenggelam dan terbitnya  matahari dan bulan atau dihitung melalui pergantian siang dan malam sehingga satu hari sama dengan dua puluh empat jam. Adapun zaman sebelum diciptakannya langit dan bumi itu perhitungan di sisi Allah itu seperti yang dijelaskan dalam surat Al Hajj ayat 47 yang artinya:

 “Sesungguhnya sehari  di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun dari perhitungan kalian”. Satu hari sama dengan dua puluh empat jam itu berlaku sejak adanya langit dan bumi.

Contoh lain tentang “Kun” yaitu kejadian banjir besar pada zaman Nabi Nuh. Sebelum banjir terjadi, Allah telah memberi peringatan kepada manusia melalui Nabi Nuh, sehingga Nabi Nuh diperintahkan untuk membuat perahu, dan lain-lain. Contoh dalam Al Qur’an tentang “Kun”

Tentang surat Al Hijr ayat 26-30, yang artinya:

  1. Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
  2. Dan kami Telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.
  3. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk,
  4. Maka apabila Aku Telah menyempurnakan kejadiannya, dan Telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud [796].
  5. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama,

[796]  dimaksud dengan sujud di sini bukan menyembah, tetapi sebagai penghormatan.

Menurut Agus Mustafa “Seakan-akan ada kesan bahwa Allah bercerita tentang penciptaan manusia yang pertama (Adam) langsung dari tanah liat. Akan tetapi kalau dicermati, ayat di atas tidak bercerita tentang penciptaan seorang manusia, melainkan manusia secara kolektif. Yang digunakan dalam ayat ini adalah kata”al insan”. Sayangnya sekali lagi dalam kitab terjemahan sering kali  diberi penjelasan dalam kurung (Adam). Ini menyebabkan pemahaman orang yang hanya membaca dari terjemahan bahasa Indonesianya seakan-akan ayat itu bercerita tentang penciptaan Adam sebagai manusia yang pertama. Masih kata Agus Mustafa” Jika mau lebih jelas lagi dalam memahami ayat itu, bacalah ayat-ayat berikutnya, yaitu surat:

Al Hijr ayat 28 yang artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat : Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia (basyaran) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”.

Al Hijr ayat 29 yang artinya: “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruhKu, maka tunduklah kamu dengan bersujud”.

Al Hijr ayat 30 yang artinya: “Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama”.

Allah memberikan penjelasan lebih rinci bahwa yang diciptakan  dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam itu adalah basyaran yaitu manusia sebelum al insan atau nenek moyang al insan yang memang sudah ada selama jutaan tahun sebelumnya. Karena itu ayat berikutnya memberikan penjelasan bahwa basyaran itu masih perlu disempurnakan lagi oleh Allah agar al basyar itu menjadi al insan.

“Maka bila telah Kusempurnakan kejadiannya, dan telah Kutiupkan ruhKu ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”. Dan para malaikat bersujud bersama-sama bukan kepada al basyar melainkan kepada al insan.

Jadi, adalah sangat keliru kalau kita menafsiri ayat tersebut sebagai proses penciptaan Adam-manusia pertama  dari tanah liat. Itu adalah cerita tentang penciptaan al basyar secara kolektif, yang ditumbuhkan oleh Allah dari tanah bumi. Dan setelah disempurnakan kejadiannya menjadi al insan, barulah malaikat diperintahkan bersujud kepada salah satu al insan itu yaitu Adam. Lantas dari keturunan Adam inilah manusia modern berkembang biak sedangkan manusia-manusia lain selain keturunan Adam mengalami kepunahan. Maka manusia modern ini disebut sebagai bani Adam.”

Surat Al Hijr ayat 26–30 seperti tersebut di atas itu memang menceritakan kejadian  manusia secara kolektif (al basyar), dan kemudian  al basyar itu disempurnakan menjadi al insan dengan “di masukkan ruh Ku  ke dalamnya”. Inilah yang membedakan antara al basyar dan al insan, sehingga al insan ini dikatakan sebagai manusia yang berakal fikiran budi, sedangkan al basyar itu hanya berakal tetapi tidak dilengkapi dengan rasa kemanusiaan. Tetapi jangan katakan bahwa Adam itu keturunan dari manusia purba  dan jangan katakan pula bahwa manusia “Adam” itu dilahirkan sebagaimana “Isa” itu dilahirkan, al basyar diciptakan tersendiri dan al insan juga diciptakan tersendiri.

Surat Al Imran ayat 59 itu memberikan perumpamaan tentang penciptaan Adam seumpama dengan penciptaan Isa ibnu Maryam. Adam dan Isa sama-sama diciptakan tidak melalui hubungan seksual. Itulah yang dimaksud dengan Surat Al Imran ayat 59, yang artinya :

 “Sesungguhnya perumpamaan (kejadian) Isa disisi Allah adalah seperti kejadian (penciptaan) Adam, Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berfirman “Jadilah” maka jadilah dia”

Kata  “masala” dalam Al Qur’an itu tidak berarti “masalah”, tetapi berarti “perumpamaan”. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa cara penciptaan Adam dan Isa sama (sama-sama diciptakan dari tanah), akan tetapi prosesnya berbeda (Adam diciptakan oleh kehendak Allah, sedangkan Isa dilahirkan melalui proses kehamilan Siti Maryam)